Heboh Video Cacing di Makanan Siswa SMA N 1 Hanura, Program MBG Jadi Sorotan

MEDIA INFORMASI, PESAWARAN – Temuan dugaan cacing dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Hanura, Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, memicu kekhawatiran para wali murid terhadap kualitas makanan yang disalurkan kepada siswa.


Insiden ini mencuat setelah beredarnya video singkat di media sosial yang memperlihatkan adanya dugaan cacing menyerupai lintah pada daun selada dalam menu makanan yang diterima siswa.


Dalam video tersebut terdengar suara seseorang dengan nada menyindir, “Peliharaan baru gaes, semoga betah ya, itu buk masih gerak-gerak,” yang kemudian menjadi perhatian publik dan memicu beragam reaksi masyarakat.


Sejumlah wali murid menilai kejadian tersebut sangat memprihatinkan dan tidak seharusnya terjadi dalam program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa.
“Ini bukan cacing lagi, tapi sepertinya sudah mendekati lintah. Ngeri saya lihatnya,” ujar salah satu wali murid, Kamis (23/4/2026).


Program MBG yang digagas untuk meningkatkan pemenuhan gizi pelajar kini justru menuai sorotan tajam. Dugaan kelalaian dalam proses pengolahan hingga distribusi makanan dinilai menjadi persoalan serius yang harus segera ditelusuri oleh pihak terkait.


Pihak media telah berupaya melakukan koordinasi dengan pihak sekolah guna mengonfirmasi kejadian tersebut serta menanyakan langkah yang akan diambil. Selain itu, konfirmasi juga akan dilakukan kepada pihak penyelenggara MBG terkait insiden yang terjadi di SMA Negeri 1 Hanura.


Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah mengenai temuan tersebut.


Masyarakat pun mendesak instansi terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk mengevaluasi sistem pengawasan serta standar operasional dalam penyediaan makanan bagi siswa.


Pengamat menilai, program berskala besar seperti MBG memerlukan pengawasan ketat dan berkelanjutan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi agar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program sosial tidak hanya diukur dari distribusi, tetapi juga dari kualitas dan keamanan manfaat yang diterima masyarakat. Transparansi serta akuntabilitas dinilai menjadi kunci utama menjaga kepercayaan publik terhadap program pemerintah.


Sementara itu, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Pesawaran turut menyampaikan teguran keras terhadap pelaksanaan Program MBG yang belakangan berulang kali menuai sorotan di wilayah tersebut.


Berbagai persoalan mulai dari dugaan makanan tidak matang, roti berjamur, hingga temuan benda asing dalam makanan siswa dinilai sebagai persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut kesehatan dan keselamatan pelajar.


Ketua SMSI Kabupaten Pesawaran, Eri Novrizal, menegaskan bahwa seluruh pihak yang memiliki kewenangan harus segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaksanaan MBG di daerah tersebut.


“Program ini niatnya sangat baik, namun pelaksanaannya tidak boleh asal jalan. Jika berulang kali terjadi kelalaian fatal, maka pihak berwenang wajib bertindak tegas demi melindungi siswa sebagai penerima manfaat,” tegas Eri, Kamis (23/4/2026).


Menurutnya, pihak terkait seperti Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, dinas terkait, kepala sekolah, hingga instansi pengawas kesehatan perlu segera melakukan pemeriksaan terhadap vendor, dapur penyedia, distribusi, hingga standar kualitas makanan.


SMSI Pesawaran juga menilai kepala sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk menghentikan sementara pembagian makanan apabila ditemukan menu yang diduga tidak layak konsumsi.


“Jangan tunggu ada korban. Kalau makanan diragukan kualitasnya, lebih baik dihentikan sementara dan dievaluasi total,” lanjutnya.


Ia menambahkan, apabila ditemukan pelanggaran berulang atau unsur kelalaian berat, maka pelayanan vendor atau dapur penyedia layak dihentikan sementara hingga seluruh persoalan dibenahi.


SMSI Pesawaran juga mengajak masyarakat, orang tua murid, dan media untuk terus mengawasi jalannya program MBG agar tujuan mulia meningkatkan gizi siswa tidak berubah menjadi keresahan publik.


“Anak-anak sekolah bukan objek percobaan. Mereka harus menerima makanan yang sehat, aman, bergizi, dan layak konsumsi,” pungkasnya. (Humas SMSI Pesawaran).

Comments (0)
Add Comment