Oleh: Suryanto
Sekretaris Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Pesawaran
Dalam kehidupan sosial, berlembaga merupakan sebuah keniscayaan. Hampir setiap aktivitas kemasyarakatan, profesi, hingga perjuangan aspirasi dilakukan melalui wadah organisasi atau lembaga.
Namun, keberadaan lembaga tidak akan bermakna tanpa sikap dan perilaku yang benar dari orang-orang di dalamnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang ketika memilih untuk berlembaga.
Pertama, menjunjung tinggi tujuan dan marwah lembaga. Setiap lembaga dibentuk dengan visi, misi, serta tujuan tertentu. Seseorang yang bergabung di dalamnya wajib menempatkan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Lembaga tidak boleh dijadikan alat untuk mencari keuntungan pribadi, popularitas, atau kepentingan sempit yang justru dapat merusak citra dan kepercayaan publik.
Kedua, mematuhi aturan dan mekanisme organisasi. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), peraturan internal, serta keputusan bersama adalah pedoman yang harus ditaati. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam berorganisasi, namun harus disampaikan melalui jalur yang etis, konstitusional, dan bermartabat, bukan dengan cara-cara yang destruktif.
Ketiga, menjaga etika, sikap, dan integritas. Nama lembaga melekat pada setiap individu yang menjadi anggotanya. Oleh sebab itu, perilaku pribadi di ruang publik, termasuk di media sosial, harus mencerminkan nilai-nilai lembaga. Tindakan yang mencederai etika, menyebarkan ujaran kebencian, atau memicu konflik hanya akan merugikan lembaga secara keseluruhan.
Keempat, aktif berkontribusi dan bertanggung jawab. Berlembaga bukan sekadar memiliki kartu anggota atau jabatan struktural. Setiap individu dituntut untuk berperan aktif sesuai dengan kapasitas dan amanah yang diemban. Kontribusi nyata, sekecil apa pun, jauh lebih bernilai daripada sekadar klaim keanggotaan tanpa kerja.
Kelima, mengutamakan musyawarah dan kebersamaan. Lembaga yang kuat adalah lembaga yang dibangun di atas semangat kolektif, saling menghargai, dan saling menguatkan. Ego sektoral dan sikap merasa paling benar harus ditinggalkan, karena hanya akan melahirkan perpecahan dan melemahkan organisasi dari dalam.
Akhirnya, berlembaga sejatinya adalah proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang dewasa, bertanggung jawab, dan berintegritas. Jika setiap individu mampu menempatkan diri secara benar dalam berlembaga, maka lembaga tersebut tidak hanya akan bertahan, tetapi juga mampu memberi manfaat nyata bagi anggotanya dan masyarakat luas.