Nerimo Ing Pandum: Antara Sikap Bijak dan Tantangan Zaman

Oleh : Suryanto, Wartawan Utama, Sekretaris DPC PWRI Pesawaran


Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya yang dipengaruhi oleh budaya Jawa, kita sering mendengar ungkapan “Nerimo Ing Pandum.” Secara sederhana, ungkapan ini berarti menerima dengan ikhlas apa yang telah menjadi bagian atau ketentuan hidup seseorang. Nilai ini telah lama menjadi pedoman hidup yang menanamkan kesabaran, keikhlasan, serta rasa syukur atas apa yang dimiliki.


Dalam konteks kehidupan sosial, filosofi nerimo ing pandum mengajarkan manusia untuk tidak serakah dan tidak memaksakan kehendak di luar kemampuan. Sikap ini juga menuntun seseorang untuk tetap tenang menghadapi berbagai ujian hidup, karena percaya bahwa setiap orang memiliki jalan dan rezekinya masing-masing.


Namun, di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, pemahaman terhadap filosofi ini sering kali disalahartikan. Tidak sedikit yang menganggap nerimo ing pandum sebagai sikap pasrah tanpa usaha, bahkan cenderung dijadikan alasan untuk tidak berjuang memperbaiki keadaan. Padahal, dalam makna yang sebenarnya, filosofi ini bukanlah ajaran untuk bermalas-malasan atau menyerah pada keadaan.


Nerimo ing pandum sejatinya mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan keikhlasan. Manusia tetap harus berusaha semaksimal mungkin, bekerja keras, dan berjuang meraih kehidupan yang lebih baik. Namun setelah usaha dilakukan, seseorang diajarkan untuk menerima hasilnya dengan lapang dada dan penuh rasa syukur.


Nilai ini juga penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Dalam masyarakat yang majemuk, sikap nerimo ing pandum dapat menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghindari konflik akibat ambisi yang berlebihan. Sikap ini mendorong manusia untuk lebih mengedepankan kebijaksanaan, kesederhanaan, serta kejujuran dalam menjalani kehidupan.


Bagi generasi muda saat ini, memahami filosofi nerimo ing pandum secara benar menjadi sangat penting. Nilai ini bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi moral agar manusia tetap rendah hati ketika berhasil, dan tetap kuat ketika menghadapi kegagalan.


Pada akhirnya, hidup bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mampu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan semangat nerimo ing pandum, manusia diajak untuk terus berusaha, namun tetap menjaga hati agar tidak dikuasai oleh keserakahan.


Karena sesungguhnya, kebahagiaan sering kali tidak lahir dari keberlimpahan, melainkan dari hati yang mampu menerima dan mensyukuri kehidupan dengan penuh keikhlasan.

Comments (0)
Add Comment